Masing-masing orang punya pendapat sendiri tentang definisi cinta.. Dari pendapat yang normatif hingga yang ekstrimis... Ada yang bilang cinta itu pengabdian... bahkan ada yang bilang cinta gak lebih dari sekedar alat legitimasi nafsu. Terlepas dari definisinya... Kita pasti pernah merasakan cinta.. sebengis apa pun seseorang... dan serasional apapun dia.. Cinta dari keluarga dan sahabat misalnya... semua orang pasti pernah merasakan itu...

Masih segar mungkin dalam ingatan kita semua.. saat orang tua melarang kita keluar malam... atau saat orang tua kita melarang kita pacaran... atau hal2 lain yang menunjukkan superioritas orang tua pada kita... berapa banyak hal2 superior dari orang tua yang kita sadari sebagai bentuk interprestasi rasa cinta mereka terhadap kita... tapi kita beranggapan bahwa yang mereka lakukan adalah satu kesalahan... Dengan pembenaran-pembenaran yang kita buat sendiri..

Atau kita mungkin pernah menjadi orang yang melakukan segalanya untuk teman.. dibalik nama persahabat kita melakukan apapun untuk seorang teman... meski terkadang kita tahu bahwa teman yang kita bela melakukan kesalahan....

Atau juga mungkin kita pernah menjaga perasaan kita terhadap seseorang yang kita cintai. Meski kita telah menerima penolakkan atau rasa sakit lainnya yang ia berikan...

Terlalu banyak contoh untuk menggambarkan dimana terkadang mencintai menjadi satu kesalahan..
Namun terkadang kita begitu naif untuk menyadari itu semua.. Terlalu naif untuk melihat sisi lain dari seseorang dan memahami apa yang dia pikirkan... Kita begitu yakin dengan apa yang kita yakini dalam diri kita hingga menutup mata kita bahwa setiap orang punya cara mereka sendiri dalam menjalani apa yang mereka yakini....
Seorang penumpang kapal yang kapalnya tenggelam terkatung-katung selama 3 hari dilautan yang sangat luas. Lalu dia berdoa kepada Tuhan agar tuhan menyelematkannya.

Beberapa hari kemudian ada satu kapal yang melihat si penumpang kapal dan menawari tumpangan padanya. Dan penumpang kapal itu meyakini bahwa tuhan yang akan menyelamatkannya.

Keesokan harinya terjadi hal yang sama, ada satu kapal lain yang menawari tumpangan kepadanya.
Dan dia tetap mengatakan bahwa Tuhan yang akan menyelamatkannya.

Beberapa jam kemudian, pada akhirnya si penumpang kapal tenggelam dan mati.
Lalu dia masuk surga. Di surga dia bertanya kepada Tuhan, mengapa Tuhan yang sangat dia percayai tidak menyelematkannya...

Lalu Tuhan berkata padanya, AQ TELAH MENGIRIMKAN 2 KALI BANTUAN UNTUK MENYELAMATKAN MU,, TAPI KAU MENOLAKNYA.......
Muhammad Hatta dan Soekarno pernah berdebat tentang kemerdekaan Indonesia. Pada waktu itu Hatta meminta agar Soekarno tidak buru-buru untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan, hal itu dikarenakan Hatta beranggapan bahwa sebuah negara harus di dukung dengan infrastruktur politik dan suprastruktur politik yang baik. Dan pada waktu itu Indonesia belum pada tahapan tersebut, sehingga menurutnya riskan untuk memerdekakan negeri ini. Sumber daya manusia negeri ini belum mumpuni untuk mengelola pemerintahan dan menjalankan sistem demokrasi yang diinginkan.

Namun Soekarno bersikeras untuk memerdekakan negeri ini dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, karena menurutnya, hal yang paling mendasar dan menjadi permasalahan negeri ini adalah kemerdekaan. KIta ini pintar, kita orang-orang terpilih untuk menjadi pemimpin di negeri ini, namun kita sampai hari ini tidak mampu memberikan apa yang masyarakat kita inginkan. Itu semua bukan karena kita tidak mampu secara intelektual, tapi kita tidak diberikan kemerdekaan lanjut Soekarno.

Jika saya memiliki 100 jempol, maka 100-nya akan saya acungkan untuk kedua tokoh tadi. Pantas mereka diposisikan sebagai tokoh penting dari sekian banyak founding fathers negeri ini. Dwi tunggal yang sempurna karena saling mengisi dan saling memahami. Meski sering berbeda pendapat namun semuanya hanya karena perbedaan latar belakang pemikiran, namun tujuannya tetap untuk rakyat dan memang dari rakyat.

Hari-hari ini ketika negeri berada mengangungkan demokrasi, aq dipertontonkan dengan begitu banyak pemimpin yang beradu strategi sampai-sampai melupakan apa yang harusnya mereka perjuangkan melalui demokrasi. Tarik menarik kepentingan dianggap sah dan disembunyikan dibelakang nama dinamisasi politik.

Masing-masing mengklaim bahwa suara mereka adalah suara rakyat, semuanya mendukung rakyat dan apa pun yang mereka lakukan ikhlas demi rakyat. Namun ketika rakyat tetap jadi korban. Buruh tetap menderita, petani yang katanya swasembada makin sulit menyekolahkan anak-anaknya dan penderitaan yang kian menjadi komoditas.

Hari ini negeri ku kembali berbau mesiu, negeri ku kembali digoyangkan oleh dentuman ledakan yang merenggut nyawa anak-anak negeri ini. Ketika saudara-saudaraku merintih menahan sakit di mmc, medistra dan pertamina, pemimpin ku masih berpikir tentang pengamanan dirinya sendiri, masih berpikir tentang lawan-lawan politiknya.

Haruskah Hatta dan Soekarno bangun dari kubur untuk menjelaskan pada kita, bahwa semua ini tidak pada tempatnya. Atau mungkin kita lebih butuh seorang Superman atau Wonder women untuk membuat kita merasa bahwa kita merdeka?

Malam ini Jusuf Kalla (JK) akan mengumumkan pada semua DPD I Partai GOLKAR seluruh Indonesia tentang sikap JK dalam menghadapi dan menindaklanjuti hasil pemilihan umum legislatif tanggal 9 april lalu. Dari beberapa sumber didapati bahwa JK akan mengumumkan bahwa JK akan menolak mandat yang sebelumnya diberikan DPD I Partai GOLKAR sebagai calon presiden dari partai beringin tersebut. Namun kata salah seorang ketua DPP partai beringin tersebut bahwa semuanya akan diserahkan lagi pada masing-masing DPD I. Malam ini JK hanya akan mensosialisasikan sikap JK, dan keputusan akhir akan diputuskan dalam rapat pimpinan nasional pada 23 April mendatang.

Sinyalemen itu secara terang-terangan akan menjawab apa yang selama ini menjadi pertanyaan yang ditujukan pada partai Golkar. Sinyalemen tersebut menunjukkan bahwa JK akan kembali merapat kebarisan SBY dengan jembatan emasnya dan meninggalkan mimpi segitiga emas yang hari ini bermetamorfosis sebagai Blok M.

Jika JK dan Golkar pada akhirnya kembali ke kubu SBY, semua orang akan sepakat bahwa SBY akan kembali menjadi presiden RI. Dan Indonesia ke depan akan tetap berjalan seperti saat ini, karena toh SBY dengan slogannya lanjutkan, mensinyalir hal tersebut.

Apa yang terjadi pada Golkar selanjutnya juga tidak akan berubah. Golkar memang berada dalam blog kekuasaan yang memungkinkan kader-kader golkar untuk mendapatkan posisi-posisi penting di pemerintahan. Apalagi Golkar merupakan partai yang memiliki suara terbanyak kedua setelah demokrat.
Namun ke depannya, Golkar akan berada dalam bayang-bayang SBY dan demokrat. Pasca bergabung dengan SBY, Golkar mengalami kohesifitas eksistensi baik dalam pemerintahan maupun dalam pengaruhnya di masyarakat. Hal tersebut dibuktikan dengan menurunnya tingkat elektabilitas partai golkar pada pemilu 2009 yang baru saja dilaksanakan. Kohesifitas tersebut akan berakibat buruk terhadap partai golkar ke depannya. Hari ini golkar telah kehilangan 2 dari 3 komponen kekuasaan yang selama ini menjadi kekuatan golkar, yaitu finansial, militer dan birokrasi. Oleh karena itu, membangun kembali koalisi dengan SBY hanya akan memperbesar kohesifitas tersebut. Namun dari sisi pragmatis, golkar kembali menunjukkan pragmatismenya sebagai partai penguasa. Meskipun tanpa kekuasaan. Hal tersebut sekali lagi membuktikan bahwa golkar benar-benar tidak siap menjadi partai oposisi.

Lain halnya jika partai beringin tersebut bergabung bersama Blok M. Pertarungan dalam pilpres akan semakin menarik dan sulit diramalkan. Namun jikalaupun kalah. Golkar masih memiliki bargaining posision yang setara dengan PDI-P dalam pertarungan politik nasional. Golkar dan PDI-P sebagai partai yang memiliki basis kultural di daerah akan mampu meraih kekuaasan di daerah untuk kembali menguatkan basis-basis kultural tersebut dalam orientasi politik masa depan kedua partai tersebut. JIka hari ini kita bicara tentang politik di daerah, tidak ada satupun partai politik yang memiliki cakar setajam kedua partai tersebut. Koalisi permanen selama 5 tahun atau lebih diantara kedua partai akan menjadi kekuatan yang luar biasa di konstituen daerah. Selanjutnya koalisi permanen di DPR akan memberikan keseimbangan kekuasaan di daerah dan di pusat. Golkar dan PDI-P yang hari ini kekurangan tokoh untuk dijual, akan mampu kembali mendaptkan simpati publik.

Namun semua itu kembali ke dua partai besar tersebut. Partai besar yang hari ini telah menjadi ayam kalahan dalam pemilu legislatif. KIta hanya bisa berharap, partai politik besar seperti kedua partai tersebut tidak hanya meributi persoalan kekuasaan dan menuntut ketika pada akhirnya mereka tidak mendapatkan kekuasaan. Sebagai partai politik yang telah melakukan banyak hal bagi masyarakat, kita tidak ingin melihat kedua partai ini nantinya akan tenggelam dalam sejarah seperti halnya partai-partai besar dulu.
Mungkin kita semua pernah mendengar kata-kata bijak berikut ini.

"SUARA RAKYAT SUARA TUHAN" atau "VOX POPULI VOX DEI"

Namun mungkin masing-masing kita mengilhami kalimat tersebut dengan cara yang berbeda-beda.

Ada yang memaknai kalimat tersebut dalam orientasi kekuasaan, dimana kekuasaan dan kekuatan rakyat adalah kekuatan maha dahsyat yang bisa mengalahkan kekuatan apapun seperti halnya kekuatan Tuhan sang causa prima. Oleh karena itu segala sesuatu yang tidak sejalan dengan kepentinga rakyat harus dihancurkan dengan cara apapun.

Namun disisi lain, ada yang mengilhami kalimat tersebut sebagai suatu motivasi untuk tetap memposisikan fenomena yang terjadi sebagai sesuatu yang ditetapkan oleh sang causa prima yang memiliki kekuatan lebih besar dari kekuatan apapun.

Merujuk pada para demonstran dan para tukang kritik, pada umumnya menggunakan orientasi yang pertama, karena hal tersebut dianggap cenderung lebih rasional dibandingkan orientasi kedua.

Tapi pernahkah kita mencoba untuk mengilhami seperti halnya pengilhaman yang kedua itu.
Pernahkah kita berdoa sebelum berangkat turun kejalan dan menggenggam toa.
Pernahkah kita mendoakan orang-orang yang kita anggap menzhalimi kita.
Apakah lantas jika kita melakukan hal tersebut esensi perjuangan kita berkurang atau jika kita melaksanakan itu berarti kita menelanjangi ideologi kita.

Mengapa sampai hari ini kita masih sendiri kawan.
Apakah berjuang sambil berdoa selalu lebih baik dari berdoa sambil berjuang ?
Mari refleksi, mari buka pikiran kita yang kian sempit karena tuduhan-tuduhan yang kita lontarkan.

Pages

Popular Posts