Suatu ketika, saya membaca novel yang menggambarkan suatu dunia, di mana pemerintahannya terdiri dari orang-orang paranoid yang mengingkari kembalinya kekuatan jahat yang akan memperbudak dan menteror masyarakat. Perdana menteri justru memfokuskan untuk mengendalikan isyu dan melakukan pengawasan ketat pada masyarakat --dengan mengatasnamakan ketertiban dan keamanan-- ketimbang mengungkap kebenaran. Ini adalah suatu dunia di mana berita di koran didistorsi dan sejumlah artikel disensor akibat tekanan pemerintah. Suatu dunia di mana siapapun yang berbicara mengenai kembalinya sang kekuatan jahat dicap sebagai orang gila. Suatu dunia di mana terjadi suatu upaya untuk melakukan pembersihan terhadap etnis tertentu.

Siapa yang menulis ini? Nelson Mandela? Ben Anderson? Mengejutkan, bahwa buku ini, Harry Potter and The Order of the Phoenix ditulis oleh Joanne Kathleen Rowling serta termasuk kategori buku fiksi untuk anak-anak. Beberapa pembaca mungkin menghindari membaca buku Harry Potter karena konstruksi media yang membangun imaji bahwa buku ini tidak lebih dari sekedar buku anak-anak. Namun, mencermati latar peristiwa di Indonesia saat ini, buku ini sebenarnya membawa refleksi mendalam dan menyentuh realita. Sebagai mitologi baru, kisah Harry Potter menembus ranah psikologi, edukasi, intelektual, spiritual, dan arketipal. Pada artikel ini, saya ingin memfokuskan pada level politik. Hemat saya, suasana kampanye para calon pemimpin negeri tengah mencapai suatu kedalaman magis yang mempengaruhi kesadaran dari banyak orang.
Pada tulisan ini, saya tidak akan memfokuskan pada eksplanasi atau analisis. Saya hanya akan menghadirkan suatu mitologi yang mungkin dapat kita sadari sebagai sinyal akan apa yang sebenarnya terjadi. Saya mengimajinasikan suatu kesamaan situasi ketika novel Harry Potter memberi gambaran suatu cerita yang mengenai rasa takut dan pemerintah serta kebohongan yang dijual melalui media. Dalam Harry Potter and The Order of The Phoenix, Harry dan teman-temannya di Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry mendapat tekanan dari pihak pemerintah, dalam hal ini oleh sang Perdana Menteri Sihir Cornelius Fudge. Pemerintah mendiskreditkan Harry dan Albus Dumbledore—kepala sekolah Hogwarts—yang berusaha menyadarkan mengenai kembalinya sang kekuatan jahat Lord Voldemort. Buku kelima Harry Potter adalah cerita bagus untuk merefleksikan masa yang kita alami sekarang; meski tidak sepenuhnya akurat, namun menawarkan indahnya kebenaran.

Saya seolah diperingatkan bahwa apa yang tengah terjadi pada masyarakat saat ini adalah serangan gencar yang saling mengunggulkan diri dan mendistorsi citra dari pesaing, melalui berbagai saluran media. Media adalah padang Kurusetra, ajang merebut perhatian dan hegemoni. Para calon pemimpin saling beradu ketrampilan untuk mempengaruhi kognisi individu sehingga agar tergerak memilihnya sebagai presiden. Pemanfaatan rasa takut menjadi salah satu modus dalam menempatkan diri sebagai yang lebih baik sekaligus menjatuhkan pesaing. Kasus beredarnya VCD AFI-Kerusuhan Mei 1998 adalah salah satu contoh.
Ketakutan yang disertai ketidaktahuan--masyarakat juga mereka manfaatkan melalui penggunaan simbol-simbol agama sebagai alat untuk melegitimasi bahwa dirinya adalah sosok yang memiliki budi pekerti tinggi. Nurcholis Majid (Jawa Pos, 15 Juni 2004) melihat bahwa simbol-simbol agama adalah hal yang disadari sebagai peluang dan dimanfaatkan betul oleh para Capres dan cawapres. Asmuni, TH (Jawa Pos, 18 Juni 2004) mencermati mengenai Pelekatan identitas agama seperti Haji, hajah, Kiai haji sebagai suatu pemanfaatan yang sebenarnya merendahkan agama dan simbol-simbol itu sendiri.
Dalam kisah Harry Potter, media digambarkan sebagai kepanjangan tangan dari otoritas, menyensor hal yang dianggap memalukan dan melakukan pembelokan berita dari kenyataan. Fenomena itu disimbolisasikan dalam karakter Rita Skeeter, sang reporter dari harian Daily Prophet, dengan pena bulu hijau yang dapat mengutip sendiri sekaligus mendramatisir dan membelokkan berita dari kenyataan. Daily Prophet memang diterbitkan untuk menghasilkan uang sehingga berita yang dimuat harus mampu menjual. Namun, ada juga harian The Quibbler yang memuat semua cerita penting tanpa membedakan; karena memang tidak peduli soal menghasilkan uang. Dengan bantuan Hermione, Harry Potter mengungkapkan kebenaran melalui suatu wawancara dengan The Quibbler. Dalam hitungan jam setelah harian itu terbit, hampir semua siswa Hogwarts memiliki harian itu. Umbridge dan Fudge segera mengeluarkan surat perintah yang melarang semua siswa untuk memiliki harian tersebut.
Media adalah sarana yang tepat untuk hegemoni. Pada kondisi ini, orang berpotensi terlarut dan tidak melakukan cermatan kritis. Instruksi dari tokoh agama untuk memilih salah satu dan menolak yang lain, ditempatkan sebagai dogma yang menimbulkan ketakutan terhadap konsekuensi dosa bila dilanggar. Pengalaman masa lalu seolah tidak bisa menjadi refleksi berharga yang memandu kita untuk memutuskan. Kita terbiasa mengandalkan pada kebenaran semu dan tidak pernah memahami apa yang substansial dalam memutuskan pilihan.
Masyarakat kita adalah masyarakat yang penuh dengan ketakutan, karena hidup dari satu pemerintahan ke pemerintahan lain yang tidak bisa memberikan jaminan rasa aman. Berbagai peristiwa bernuansa kematian seperti G30 S/PKI, berbagai kerusuhan etnis dan agama, serta sejumlah pemboman adalah hal-hal yang menanamkan ketakutan dalam alam bawah sadar kolektif di masyarakat kita. Ketakutan ini kemudian manifes dalam harapan akan sosok pemimpin yang mampu mengamankan dari rasa takut ini. Sayangnya, itu tidak dilakukan dengan cermatan atas realita namun lebih mengandalkan pada hal-hal yang sifatnya taken-for-granted, seperti simbol-simbol keagamaan.

Pemimpin berlatar militer dikonstruksikan dengan kembalinya tiran seperti pada jaman Orde Baru. Sayangnya, ketakutan ini tidak disertai kecermatan sehingga orang menjadi asal pilih sosok yang tidak berlatar militer. Padahal, tiran hanya eksis ketika banyak orang mau begitu saja dibodohi oleh jargon-jargon. Pada akhirnya, situasi ketakutan akan tiran justru berpotensi menghasilkan tiran-tiran baru. Dalam The Order of the Phoenix, tokoh tiran ada dalam karakter Profesor Dolores Umbridge, yang hadir untuk memaksakan suatu “aturan baru dalam dunia pendidikan”, sekaligus menempatkan diri sebagai inkuisitor agung yang memonitor semua murid dan guru serta memiliki kekuasaan untuk mengeluarkan orang yang tidak disukaii. Sebuah metafora mengenai represifitas yang mengatasnamakan ketertiban, keamanan, dan ketentraman semu.
Umbridge masuk melalui jabatan guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, yang semestinya memberi pembekalan pada siswa cara-cara menangani sihir dari kekuatan hitam. Namun, sesuai dengan pemikiran Perdana Menteri sihir yang berdalih, bahwa anak-anak masih terlalu muda untuk dihadapkan pada hal-hal mengerikan dari sihir hitam, maka Umbridge menjauhkan anak-anak dari hal praktis. Kelas yang diajar Umbridge hanya memperbolehkan siswa belajar dari teori dalam buku, tidak ada diskusi atau tak boleh ada pertanyaan. Pembodohan seperti ini juga banyak terjadi dalam realita yang kita jalani sehari-hari.
Ada tema rasialisme dan prasangka dalam kisah Harry Potter. Lord Voldemort dan kroni-nya adalah kelompok penyihir yang mengagungkan kemurnian darah. Mereka membenci para penyihir yang dilahirkan dari orang tua yang bukan penyihir, serta menyebut mereka ‘darah lumpur’ (mudblood). Saya membayangkan peristiwa pembantaian terhadap golongan tertentu yang kerap terjadi di Indonesia. Menjadi menarik ketika permasalahan pelik ini direfleksikan dalam suatu cerita. Scene ini menyentuhkan saya pada realita mayoritas-minoritas dan isyu mengenai Piagam Jakarta yang kerap berhembus. Isyu yang berkonstelasi dengan sejumlah icon peristiwa berdarah seperti peledakan tempat ibadah, kerusuhan Mei 1998, Kasus Priok, sampai militansi kelompok tertentu yang manifes dalam pengeboman Bali atau JW Marriot. Mau tidak mau ada ketakutan yang sama dengan apa yang tergambar dalam kisah Harry Potter mengenai represi terhadap suatu golongan tertentu.
Dalam cermatan saya, sejumlah mantra dalam kisah Harry Potter menceminkan nilai-nilai psikologis yang begitu mendalam. Salah satu favorit saya adalah mantra patronusExpecto Patronum”, yang berguna ketika menghadapi Dementor, makhluk sihir menyeramkan yang dapat menyerap kebahagiaan manusia, membuat seseorang tetap hidup tapi tanpa jiwa. Mantra Patronus sendiri hanya bisa dimunculkan ketika pemantra mengingat hal-hal yang paling membahagiakan dan bernilai dalam hidup, hal yang dapat membuat hidup ini berwarna dan bermakna. Saya rasa metafora mengenai mantra patronus membawa pesan mendalam bagi kita untuk menjaga agar “patronus” itu tetap hidup dalam diri kita. Jika kita tetap bisa melihat, mengingat, dan merasakan hal-hal membahagiakan dan bernilai; niscaya kita akan tetap jernih melihat kekumuhan situasi politik; dan mampu bersikap kritis terhadap kebohongan dari otoritas serta hegemoni pada media.

Special Thanks To :
Audifax

Keluarnya SKB 4 menteri tentang relasi hubungan antara buruh dan pengusaha yang dikeluarkan beberapa hari yang lalu lagi-lagi menempatkan buruh sebagai objek penderita. Buruh kembali ditempatkan sebagai orang yang paling dirugikan oleh karena sistem ekonomi liberal yangn diterapkan oleh pemerintah. Lagi-lagi pemerintah mengambil kebijakan yang tidak pro-rakyat.

Dengan alasan untuk mencegah PHK massal, pemerintah seolah-olah peduli dengan nasib buruh. Deputi menteri tenaga kerja pada salah satu stasiun TV mengatakan bahwa pengertian yang ada dalam SKB 4 menteri mengenai biparti sistem dalam menetapkan upah buruh tersebut lebih kepada aturan agar usaha-usaha yang sifatnya kecil dan mikro agar lebih bisa mengikuti standart upah yang selama ini diberlakukan kepada para pengusaha sedang dan besar. Jika melihat secara lebih dalam dari peraturan tersebut, ada 2 hal yang perlu disoroti.

Pertama, tujuannya adalah mencegah PHK massal. Hal itu disebabkan oleh karene melemahnya kondisi stabilitas sektor usaha oleh karena krisis global. Untuk menekan PHK massal tersebut, secara tidak langsung perusahaan harus menurunkan upah buruh dan menekan ongkos produksi agar perusahaan masih dapat berjalan. Belum sempat buruh menikmati hasil perusahaan karena kemajuan perusahaan, hari ini buruh harus ikut merasakan terpuruknya para pengusaha tersebut. Pemerintah juga seakan-akan tutup mata, bahwa di negara ini dan bahkan dinegara maju sekalipun, posisi tawar buruh tidak seimbang dengan pengusaha yang mempekerjakan mereka. Buruh masih belum dianggap sebagai tenaga professional. Jika harus disuruh untuk bernegoisasi dengan pengusaha maka jelas buruh yang akan berada di posisi yang lebih rendah. Kondisi buruh dipersulit dengan akan munculnya spekulasi dari pengelola usaha untuk semakin menekan angka kesejahteraan buruh. Buruh dalam peraturan tersebut dikatakan bisa melihat neraca keuangan dalam menentukan upah. Dari sisi ini juga dapat dilihat bahwa pemerintah jelas menutup mata. Sejak kapan perusahaan membuka neraca dan kondisi keuangan perusahaan untuk buruh, sedangkan untuk petugas saja, masih bernegosiasi.

Kedua, menurut pemetintah SKB 4 menteri tersebut dikeluarkan untuk melindungi buruh yang bekerja di sektor ekonomi mikro dan usaha kecil yang sejauh ini tidak menggunakan sistem upah minimum dalam menentukan upah buruhnya. Upah minimum diterapkan oleh pengusaha sedang/besar yang kira-kira berjumlah 200 ribu unit usaha. Sedangkan 2.3 juta unit usaha tidak menggunakan sistem upah minimum tersebut. Dari sisi unit memang benar jumlah usaha kecil jauh lebih banyak. Namun jika melihat kuantitas buruhnya.

Usaha sedang/besar jauh lebih besar di banding usaha kecil tersebut.
Dari kedua point tersebut bisa disimpulkan bahwa pemerintah jelas memberikan kemudahan bagi pengusaha besar/sedang untuk berspekulasi tentang upah buruh dengan menerapkan sistem biparti, namun pengusaha kecil/sedang dihadapkan pada permasalahan baru karena harus menghadapi tuntutan dari pekerjanya.

Seandainya pemerintah memang benar-benar mau melindungi nasib buruh, harusnya kebijakan yang diambil tidaklah seperti kebijakan tersebut yang jelas-jelas menjadikan buruh sebagai objek penderitanya. Pertama sekali yang harus dilakukan pemerintah adalah mengembalikan kemandirian ekonomi dalam negeri dengan memberikan proteksi terhadap produksi lokal. Memperbaiki kebijakan energi yang merupakan bagian dari faktor produksi untuk menekan ongkos produksi, serta banyak pilihan kebijakan yang lainnya termasuk permasalahan birokrasi dan lainnya. TURUT

BERDUKA CITA TERHADAP NASIB BURUH
Perjalanan Kehidupan Politik setidaknya dijalankan dalam 3 tahapan, yang mana jika ketiga tahap itu dijalankan, maka kehidupan politik sebagai manusia dapat dinyatakan sempurna. Namun ketiga tahap kehidupan itu harus dijalani secara bertahap dan berurutan. Dari tahap yang pertama, kedua dan ketiga. Jika tidak secara bertahap maka sulit dan sedikit tidak masuk akal impian untuk memiliki kehidupan politik yang sempurna itu dapat diraih.

Pertama, Bicara kehidupan manusia, maka kita tidak akan terlepas dari tahap KEMANUSIAAN. Manusia dilahirkan dengan dilengkapi dengan naluri kemanusiaan. Meski dibelakang hari naluri kemanusiaan ini kembali dipertanyakan. Pada tahap ini lah manusia akan berusaha membuat jati dirinya. Membuat dan bukan menemukan. Oleh karena jika manusia menemukan jati dirinya, maka sebenarnya jati diri itu merupakan jiplakan dari jati diri yang telah dibuat orang lain. Ada satu masa dimana nantinya proses penemuan jati diri tersebut merupakan langkah awal kritis dari pembuatan identitas diri dari manusia itu sendiri. Dalam proses ini juga berarti terjadi pengembangan dan aktualisasi diri manusia ke dalam lingkungan yang lebih besar dari sekedar individu manusia itu sendiri. Hal-hal yang mencakup penjelasan diatas tadi adalah, pendidikan non-formal, pendidikan formal, agama, kesehatan, keahlian, pekerjaan, serta kehidupan status sosial dan sebagainya.

Kedua, setelah mengalami masa humanistik tersebut, maka akan muncul sebuah konsepsi dasar untuk membenarkan segala proses yang telah dijalani dalam proses selanjutnya. Konsepsi tersebut yang dinamakan dengan kemapanan. Interprestasi dari kemapanan itulah yang menjadi tahap kedua dalam perkembangan manusia untuk menjadi manusia yang sempurna. Kemapanan di interpresasikan kedalam sebuah bentuk KEKUASAAN. Sudah menjadi ketetapan mungkin, dimana yang lemah akan dikuasai yang kuat. Meski terdengar seperti philosophi orang bar-bar. Tapi itu lah yang terjadi pada manusia, sadar atau tidak sadar. Proses kompetisi pada tahapan selanjutnya akan membuktikan hal tersebut. Kemapanan yang telah dibicarakan tadi melegitimasi bahwa orang-orang mapan lah yang akan pantas berkuasa. Disamping untuk menambah tingkat kemapanan di sektor kehidupan manusia yang lain, kekuasaan dijadikan pemenuh hasrat manusia untuk menjadi penting dimata orang lain dan dimata lingkungan sosial.
Hal tersebut kiranya menjawab fenomena yang selama ini terjadi di masyarakat, dimana berbondong-bondong orang kaya ikut ambil andil dalam dunia kekuasaan (politik). Bahkan persaingan untuk mendapatkan kekuasaan seolah-olah diciptakan untuk orang yang mapan saja. Orang-orang yang berada pada lapisan terbawah kelas sosial masyarakat dianggap sebagai "cheerleaders" dalam orientasi kekuasaan.

Setelah masuk pada tahap kedua, dimana kekuasaan telah didapatkan. Maka tahapan selanjutnya adalah KEABADIAN. Masih banyak diingkari mungkin. Namun kita bisa melihat seperti apa kebanggan yang diciptakan oleh sebagian rezim dan atau seluruh pemimpin. Dari hal terkecil misalnya. Seorang pemimpin partai menamakan pendukungnya dengan embel-embel pemimpin tadi. Bahkan seperti dalam sebuah film yang menginspirasi tulisan ini. Dalam film itu dikatakan bahwa biarlah aku hanya seorang tukang batu atau penunggang kuda. Tapi biarkan lah mereka mengenalku dan mereka akan mengatakan bahwa mereka pernah hidup di jamanku. Kalimat itu cukup bisa mendeskripsikan apa yang aku maksudnya dengan keabadian.


Manusia tanpa Kekuasaan akan tertindas, Kekuasaan tanpa Keabadian akan menjadi sia-sia.


HUMANITY, POWER AND IMMORTALITY
Tatto atau body painting atau rajah adalah gambar atau simbol pada kulit tubuh yang diukir dengan menggunakan alat sejenis jarum. Biasanya gambar dan simbol itu dihias dengan pigmen berwarna-warni. Jaman dulu, orang-orang masih menggunakan teknik manual dan dari bahan-bahan tradisional untuk mentatto seseorang. Orang-orang Eskimo misalnya, memakai jarum dari tulang binatang. Sekarang, orang-orang sudah memakai jarum dari besi, yang kadang-kadang digerakkan dengan mesin untuk "mengukir" sebuah tatto. Di kuil-kuil Shaolin malah memakai gentong tembaga yang panas untuk mencetak gambar naga pada kulit tubih. Murid-murid Shaolin yang dianggap memenuhi syarat untuk mendapatkan simbol itu kemudian menempelkan kedua lengan mereka pada semacam cetakan gambar naga yang ada di kedua sisi gentong tembaga panas itu.

Pada sistem budaya yang berlainan, tatto mempunyai makna dan fungsi yang berbeda-beda. Suku Maori di New Zealand membuat tatto yang berbentuk ukiran-ukiran spiral pada wajah dan pantat. Menurut mereka, ini adalah tanda bagi keturunan yang baik.
Di Kepulauan Solomon, tatto ditorehkan di wajah perempuan sebagai ritus inisiasi untuk menandai tahapan baru dalam kehidupan mereka. Hampir sama seperti diatas, orang-orang Suku Nuer di Sudan memakai tatto untuk menandai ritus inisiasi pada anak laki-laki. Orang-orang Indian melukis tubuh dan mengukir kulit mereka untuk menambah kecantikan atau menunjukkan status sosial tertentu.

Di Indonesia sendiri, pernah ada masa dimana tatto dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Orang-orang yang memakai tatto dianggap identik dengan penjahat, gali dan orang nakal. Pokoknya golongan orang-orang yang hidup di jalan dan selalu dianggap mengacau ketentraman masyarakat.

Anggapan negatif seperti ini secara tidak langsung mendapat "pengesahan" ketika pada tahun 80-an terjadi pembunuhan misterius terhadap ribuan orang gali (penjahat kambuhan) di berbagai kota di Indonesia. Soeharto (mantan presiden) dalam otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (PT. Citra Lamtorogung Persada, Jakarta, 1989) , mengatakan bahwa petrus (penembakan misterius) itu memang sengaja dilakukan sebagai treatment, tindakan tegas terhadap orang-orang jahat yang suka mengganggu ketentraman masyarakat.

Bagaimana cara mengetahui bahwa seseorang itu penjahat dan layak dibunuh? Brita L. Miklouho-Maklai dalam Menguak Luka Masyarakat: Beberapa Aspek Seni Rupa Indonesia Sejak Tahun 1966 (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997) menyebutkan bahwa para penjahat kambuhan itu kebanyakan diidentifikasi melalui tatto, untuk kemudian ditembak secara rahasia, lalu mayatnya ditaruh dalam karung dan dibuang di sembarang tempat seperti sampah.

Tidak semua orang bertatto itu penjahat memang. Tapi mengapa sampai terjadi generalisasi seperti itu? Apa kira-kira dasar alasannya? Apakah dulu kebetulan pernah ada seorang penjahat besar yang punya tatto dan itu lalu dipakai sebagai ciri untuk menggeneralisir bahwa semua orang yang bertatto pasti penjahat juga? Sayangnya belum ada studi mendalam yang bisa menguak pergeseran makna tatto dari ukiran dekoratif sebagai penghias tubuh dan simbol-simbol tertentu menjadi tanda cap bagi para penjahat.

Tapi yang jelas telah terjadi "politisasi tubuh". Tubuh dipolitisir, dijadikan alat kendali untuk kepentingan negara. Dalam kasus petrus di Indonesia, tubuh yang bertatto dipakai sebagai alat kendali, suatu alasan untuk menjaga stabilitas negara. Untuk tingkat dunia, bisa disebut beberapa contoh kasus politik tubuh besar sepanjang sejarah peradaban manusia. Orang-orang kulit putih menerapkan sistem politik apartheid di Afrika Selatan hanya karena orang-orang Afrika "berkulit hitam". Dari Jerman, Hitler dengan Nazi-nya membantai orang-orang Yahudi hanya karena di dalam tubuh orang Yahudi tidak mengalir darah Arya, darah tubuh manusia yang paling sempurna yang pernah diciptakan Tuhan di bumi ini menurut Hitler.

Sebelum tatto dianggap sebagai sesuatu yang modis, trendi dan fashionable seperti sekarang ini, tatto memang dekat dengan budaya pemberontakan. Anggapan negatif masyarakat tentang tatto dan larangan memakai rajah atau tatto bagi penganut agama tertentu semakin menyempurnakan imej tatto sebagai sesuatu yang: dilarang, haram, dan tidak boleh. Maka memakai tatto sama dengan memberontak terhadap tatanan nilai sosial yang ada, sama dengan membebaskan diri terhadap segala tabu dan norma-norma masyarakat yang membelenggu. Prang-orang yang dipinggirkan oleh masyarakat memakai tatto sebagai simbol pemberontakan dan eksistensi diri. Anak-anak yang disingkirkan oleh keluarga memakai tatto sebagai simbol pembebasan…

Setiap jaman melahirkan konstruksi tubuhnya sendiri-sendiri. Dulu tatto dianggap jelek, sekarang tatto dianggap sebagai sesuatu yang modis dan trendi. Kalau era ini berakhir, entah tatto akan dianggap sebagai apa. Mungkin status kelas sosial, mungkin sekedar perhiasan, atau yang lain.
Malam ini penuh duka Tuhan…
Denting hujan saat ini seolah bersedih untukku…
Aku susah tidur !! Segala yang beku tak lagi kaku hingga dinding beku bisa merayu.
Ini malam terakhir penaku menari di atas kertas dalam wadah sendu. Ruangku makin tak berbatas, makin sesak.. makin penat.. makin tak tentu.. gaduhku sampai tak bisa merontah … jiwaku dijeruji pilu..

Aku ingin 1000 waktu tak habis untukku. Untuk bunda… untuk ayah… untuk keluarga …. untuk sahabat… Ini bukan yang kumau Tuhan ?? Detik ini hampir binasakan inginku. Aq kini bukan apa-apa..

Sayapku tak mampu lagi memeluk bumi dari segala angkara yang kupunya. Kebahagiaanku hilang saat jiwaku hilang… Hatiku juga ikut pergi saat cintaku pergi..
Untuk tertawa sekali saja aku harus menangis berulang-ulang kali..
Trus mau apalagi, perasaanku sudah mati… sudah habis… sudah terkikis. Harus berapa kali hati ini roboh Tuhan? Hatiku kini adalah keping. Kepolosan jika melelapkanku dalam halusinasi fatamorgana yang dipenuhi kekosongan. Rasaku ditumpuki berpuluh-puluh kehampaan. Sepertinya hambar seangkasa..
Aku tak pernah mau tau jika rasa hanya membinasakan seluruh saraf-saraf dalam otak dan tubuhku. Tangga-tangga nada dari belenggu melodi cinta yang tak lagi bernyawa. Nada-nada hanya bisa menjadi melodi sunyi dari segala roh-roh kehidupan yang mencioba hidup dalam nadiku.

Tanya makin tak bernotasi!!
Aku seperti mati tapi tak mau mati…. Aku seperti hidup tapi tak mau hidup…. Aku seharusnya yang bicara tak tak mau bicara…. Tak ku mengerti apa mau jiwaku Tuhan.. ? Saat elegi dalam romansa asing menusuk sanubari. Lukaku semakin perih. Relungku makin angkat suara tentang segala cara. Kepatuhan makin menyudutkanku disudut kebisuan yang tak boleh bicara. Kemudian jiwa harus bernyanyi dan menari dalam kekalutan lantun syair yang membuatku hanyut. Tetap saja yang lampau sudah mati. Namun kejenuhan menghiba tak mau enyah. Anak panah dari sak petuah melepas jiwaku dalam cinta dan persahabatan. Cinta ajarkanku memegang teguh sendi-sendi yang mengikat insan dalam sebuah pengabdian. Cinta ajarkanku melindungi kepolosan dengan penuh kedewasaan. Mengilhami arti perbedaan dan menjadikannya satu.
Sahabat pula memberi cinta dari segala yang kutahu. Jika demikian sahabat adalah nyawa dan nafasku. Sebuah ikatan suci yang menjadikan hidup lebih berarti.

Tapi fikirku sempat terhenti… Apa jadinya jika sahabat ingkari hati. Lebih baik mati jika ingkari janji. Aku lebih tak perduli lagi jika begini. Anganku makin remuk… Harapanku makin sirna.. Dosa apa aku hingga begini? Aku harus bagaimana Tuhan..? Harus kubuang kemana perasaanku… piluku sampai tak sanggup kulontarkan hingga menderu.. Sebaiknya kubiarkan saja melayang…
Atau aku yang harus pergi dengan 1 syarat :

"BAHWA AKU TAK MAU CINTA LAGI"

Pages

Popular Posts