Mungkin kita semua pernah mendengar kata-kata bijak berikut ini.

"SUARA RAKYAT SUARA TUHAN" atau "VOX POPULI VOX DEI"

Namun mungkin masing-masing kita mengilhami kalimat tersebut dengan cara yang berbeda-beda.

Ada yang memaknai kalimat tersebut dalam orientasi kekuasaan, dimana kekuasaan dan kekuatan rakyat adalah kekuatan maha dahsyat yang bisa mengalahkan kekuatan apapun seperti halnya kekuatan Tuhan sang causa prima. Oleh karena itu segala sesuatu yang tidak sejalan dengan kepentinga rakyat harus dihancurkan dengan cara apapun.

Namun disisi lain, ada yang mengilhami kalimat tersebut sebagai suatu motivasi untuk tetap memposisikan fenomena yang terjadi sebagai sesuatu yang ditetapkan oleh sang causa prima yang memiliki kekuatan lebih besar dari kekuatan apapun.

Merujuk pada para demonstran dan para tukang kritik, pada umumnya menggunakan orientasi yang pertama, karena hal tersebut dianggap cenderung lebih rasional dibandingkan orientasi kedua.

Tapi pernahkah kita mencoba untuk mengilhami seperti halnya pengilhaman yang kedua itu.
Pernahkah kita berdoa sebelum berangkat turun kejalan dan menggenggam toa.
Pernahkah kita mendoakan orang-orang yang kita anggap menzhalimi kita.
Apakah lantas jika kita melakukan hal tersebut esensi perjuangan kita berkurang atau jika kita melaksanakan itu berarti kita menelanjangi ideologi kita.

Mengapa sampai hari ini kita masih sendiri kawan.
Apakah berjuang sambil berdoa selalu lebih baik dari berdoa sambil berjuang ?
Mari refleksi, mari buka pikiran kita yang kian sempit karena tuduhan-tuduhan yang kita lontarkan.
Masing-masing manusia pasti pernah merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling sial di dunia. Terkadang rasa itu muncul karena hal-hal kecil yang membuat diri kita kecewa baik pada diri kita sendiri maupun terhadap orang lain baik karena kesalahan kita sendiri maupun kesalahan orang lain.

Tapi pernahkah kita membayangkan kita berada diantara orang-orang yang menganggap dirinya paling sial sementara ada orang lain juga yang merasa lebih sial daripada kita tapi tidak pernah bisa menunjukkan dan menceritakan kesialan itu pada orang lain. Mungkin tidak.

Atau kita pernah merasa orang lain lebih beruntung dibandingkan kita, tapi pada kenyataannya dia merasa lebih sial dari dia. Mungkin iya.

Maka renungilah sebelum anda menyatakan bahwa anda seorang yang paling sial, apalagi pembawa sial.

Bayangkan selagi anda merenung, ketika seseorang merasa sangat beruntung memiliki pekerjaan yang tidak bisa digapai atau hanya menjadi mimpi tak kesampaian orang lain seperti astronout misalnya. Kita merasa bahwa dia adalah orang yang sangat beruntung diberikan kesempatan tersebut, tapi ternyata dia merasa bahwa dia adalah orang paling sial, karena pada saat menjalankan misi tunggalnya keluar angkasa seperti bulan misalnya, ternyata ada seonggok batu besar (asteroid) yang menghantam bumi dan menghancurkan bumi menjadi berkeping-keping sementara dia hanya bisa melihat itu dari jauh.

Bagaimana ketika anda diposisi dia, apakah masih merasa anda paling sial. Atau anda mau mengatakan bahwa saya adalah orang sialan yang membongkar kesialan anda..

"Tak ada manusia yang dilahirkan dengan kesialan, kesialan datang karena ketidakmampuan manusia dalam melihat dan memanfaatkan peluang"

Pages

Popular Posts