Dibalik Cerita Sang Penyihir Harry Potter

/
0 Comments
Suatu ketika, saya membaca novel yang menggambarkan suatu dunia, di mana pemerintahannya terdiri dari orang-orang paranoid yang mengingkari kembalinya kekuatan jahat yang akan memperbudak dan menteror masyarakat. Perdana menteri justru memfokuskan untuk mengendalikan isyu dan melakukan pengawasan ketat pada masyarakat --dengan mengatasnamakan ketertiban dan keamanan-- ketimbang mengungkap kebenaran. Ini adalah suatu dunia di mana berita di koran didistorsi dan sejumlah artikel disensor akibat tekanan pemerintah. Suatu dunia di mana siapapun yang berbicara mengenai kembalinya sang kekuatan jahat dicap sebagai orang gila. Suatu dunia di mana terjadi suatu upaya untuk melakukan pembersihan terhadap etnis tertentu.

Siapa yang menulis ini? Nelson Mandela? Ben Anderson? Mengejutkan, bahwa buku ini, Harry Potter and The Order of the Phoenix ditulis oleh Joanne Kathleen Rowling serta termasuk kategori buku fiksi untuk anak-anak. Beberapa pembaca mungkin menghindari membaca buku Harry Potter karena konstruksi media yang membangun imaji bahwa buku ini tidak lebih dari sekedar buku anak-anak. Namun, mencermati latar peristiwa di Indonesia saat ini, buku ini sebenarnya membawa refleksi mendalam dan menyentuh realita. Sebagai mitologi baru, kisah Harry Potter menembus ranah psikologi, edukasi, intelektual, spiritual, dan arketipal. Pada artikel ini, saya ingin memfokuskan pada level politik. Hemat saya, suasana kampanye para calon pemimpin negeri tengah mencapai suatu kedalaman magis yang mempengaruhi kesadaran dari banyak orang.
Pada tulisan ini, saya tidak akan memfokuskan pada eksplanasi atau analisis. Saya hanya akan menghadirkan suatu mitologi yang mungkin dapat kita sadari sebagai sinyal akan apa yang sebenarnya terjadi. Saya mengimajinasikan suatu kesamaan situasi ketika novel Harry Potter memberi gambaran suatu cerita yang mengenai rasa takut dan pemerintah serta kebohongan yang dijual melalui media. Dalam Harry Potter and The Order of The Phoenix, Harry dan teman-temannya di Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry mendapat tekanan dari pihak pemerintah, dalam hal ini oleh sang Perdana Menteri Sihir Cornelius Fudge. Pemerintah mendiskreditkan Harry dan Albus Dumbledore—kepala sekolah Hogwarts—yang berusaha menyadarkan mengenai kembalinya sang kekuatan jahat Lord Voldemort. Buku kelima Harry Potter adalah cerita bagus untuk merefleksikan masa yang kita alami sekarang; meski tidak sepenuhnya akurat, namun menawarkan indahnya kebenaran.

Saya seolah diperingatkan bahwa apa yang tengah terjadi pada masyarakat saat ini adalah serangan gencar yang saling mengunggulkan diri dan mendistorsi citra dari pesaing, melalui berbagai saluran media. Media adalah padang Kurusetra, ajang merebut perhatian dan hegemoni. Para calon pemimpin saling beradu ketrampilan untuk mempengaruhi kognisi individu sehingga agar tergerak memilihnya sebagai presiden. Pemanfaatan rasa takut menjadi salah satu modus dalam menempatkan diri sebagai yang lebih baik sekaligus menjatuhkan pesaing. Kasus beredarnya VCD AFI-Kerusuhan Mei 1998 adalah salah satu contoh.
Ketakutan yang disertai ketidaktahuan--masyarakat juga mereka manfaatkan melalui penggunaan simbol-simbol agama sebagai alat untuk melegitimasi bahwa dirinya adalah sosok yang memiliki budi pekerti tinggi. Nurcholis Majid (Jawa Pos, 15 Juni 2004) melihat bahwa simbol-simbol agama adalah hal yang disadari sebagai peluang dan dimanfaatkan betul oleh para Capres dan cawapres. Asmuni, TH (Jawa Pos, 18 Juni 2004) mencermati mengenai Pelekatan identitas agama seperti Haji, hajah, Kiai haji sebagai suatu pemanfaatan yang sebenarnya merendahkan agama dan simbol-simbol itu sendiri.
Dalam kisah Harry Potter, media digambarkan sebagai kepanjangan tangan dari otoritas, menyensor hal yang dianggap memalukan dan melakukan pembelokan berita dari kenyataan. Fenomena itu disimbolisasikan dalam karakter Rita Skeeter, sang reporter dari harian Daily Prophet, dengan pena bulu hijau yang dapat mengutip sendiri sekaligus mendramatisir dan membelokkan berita dari kenyataan. Daily Prophet memang diterbitkan untuk menghasilkan uang sehingga berita yang dimuat harus mampu menjual. Namun, ada juga harian The Quibbler yang memuat semua cerita penting tanpa membedakan; karena memang tidak peduli soal menghasilkan uang. Dengan bantuan Hermione, Harry Potter mengungkapkan kebenaran melalui suatu wawancara dengan The Quibbler. Dalam hitungan jam setelah harian itu terbit, hampir semua siswa Hogwarts memiliki harian itu. Umbridge dan Fudge segera mengeluarkan surat perintah yang melarang semua siswa untuk memiliki harian tersebut.
Media adalah sarana yang tepat untuk hegemoni. Pada kondisi ini, orang berpotensi terlarut dan tidak melakukan cermatan kritis. Instruksi dari tokoh agama untuk memilih salah satu dan menolak yang lain, ditempatkan sebagai dogma yang menimbulkan ketakutan terhadap konsekuensi dosa bila dilanggar. Pengalaman masa lalu seolah tidak bisa menjadi refleksi berharga yang memandu kita untuk memutuskan. Kita terbiasa mengandalkan pada kebenaran semu dan tidak pernah memahami apa yang substansial dalam memutuskan pilihan.
Masyarakat kita adalah masyarakat yang penuh dengan ketakutan, karena hidup dari satu pemerintahan ke pemerintahan lain yang tidak bisa memberikan jaminan rasa aman. Berbagai peristiwa bernuansa kematian seperti G30 S/PKI, berbagai kerusuhan etnis dan agama, serta sejumlah pemboman adalah hal-hal yang menanamkan ketakutan dalam alam bawah sadar kolektif di masyarakat kita. Ketakutan ini kemudian manifes dalam harapan akan sosok pemimpin yang mampu mengamankan dari rasa takut ini. Sayangnya, itu tidak dilakukan dengan cermatan atas realita namun lebih mengandalkan pada hal-hal yang sifatnya taken-for-granted, seperti simbol-simbol keagamaan.

Pemimpin berlatar militer dikonstruksikan dengan kembalinya tiran seperti pada jaman Orde Baru. Sayangnya, ketakutan ini tidak disertai kecermatan sehingga orang menjadi asal pilih sosok yang tidak berlatar militer. Padahal, tiran hanya eksis ketika banyak orang mau begitu saja dibodohi oleh jargon-jargon. Pada akhirnya, situasi ketakutan akan tiran justru berpotensi menghasilkan tiran-tiran baru. Dalam The Order of the Phoenix, tokoh tiran ada dalam karakter Profesor Dolores Umbridge, yang hadir untuk memaksakan suatu “aturan baru dalam dunia pendidikan”, sekaligus menempatkan diri sebagai inkuisitor agung yang memonitor semua murid dan guru serta memiliki kekuasaan untuk mengeluarkan orang yang tidak disukaii. Sebuah metafora mengenai represifitas yang mengatasnamakan ketertiban, keamanan, dan ketentraman semu.
Umbridge masuk melalui jabatan guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, yang semestinya memberi pembekalan pada siswa cara-cara menangani sihir dari kekuatan hitam. Namun, sesuai dengan pemikiran Perdana Menteri sihir yang berdalih, bahwa anak-anak masih terlalu muda untuk dihadapkan pada hal-hal mengerikan dari sihir hitam, maka Umbridge menjauhkan anak-anak dari hal praktis. Kelas yang diajar Umbridge hanya memperbolehkan siswa belajar dari teori dalam buku, tidak ada diskusi atau tak boleh ada pertanyaan. Pembodohan seperti ini juga banyak terjadi dalam realita yang kita jalani sehari-hari.
Ada tema rasialisme dan prasangka dalam kisah Harry Potter. Lord Voldemort dan kroni-nya adalah kelompok penyihir yang mengagungkan kemurnian darah. Mereka membenci para penyihir yang dilahirkan dari orang tua yang bukan penyihir, serta menyebut mereka ‘darah lumpur’ (mudblood). Saya membayangkan peristiwa pembantaian terhadap golongan tertentu yang kerap terjadi di Indonesia. Menjadi menarik ketika permasalahan pelik ini direfleksikan dalam suatu cerita. Scene ini menyentuhkan saya pada realita mayoritas-minoritas dan isyu mengenai Piagam Jakarta yang kerap berhembus. Isyu yang berkonstelasi dengan sejumlah icon peristiwa berdarah seperti peledakan tempat ibadah, kerusuhan Mei 1998, Kasus Priok, sampai militansi kelompok tertentu yang manifes dalam pengeboman Bali atau JW Marriot. Mau tidak mau ada ketakutan yang sama dengan apa yang tergambar dalam kisah Harry Potter mengenai represi terhadap suatu golongan tertentu.
Dalam cermatan saya, sejumlah mantra dalam kisah Harry Potter menceminkan nilai-nilai psikologis yang begitu mendalam. Salah satu favorit saya adalah mantra patronusExpecto Patronum”, yang berguna ketika menghadapi Dementor, makhluk sihir menyeramkan yang dapat menyerap kebahagiaan manusia, membuat seseorang tetap hidup tapi tanpa jiwa. Mantra Patronus sendiri hanya bisa dimunculkan ketika pemantra mengingat hal-hal yang paling membahagiakan dan bernilai dalam hidup, hal yang dapat membuat hidup ini berwarna dan bermakna. Saya rasa metafora mengenai mantra patronus membawa pesan mendalam bagi kita untuk menjaga agar “patronus” itu tetap hidup dalam diri kita. Jika kita tetap bisa melihat, mengingat, dan merasakan hal-hal membahagiakan dan bernilai; niscaya kita akan tetap jernih melihat kekumuhan situasi politik; dan mampu bersikap kritis terhadap kebohongan dari otoritas serta hegemoni pada media.

Special Thanks To :
Audifax



You may also like

Tidak ada komentar:

Pages

Popular Posts