Partai Golkar Dipersimpangan Jalan.. Akankah Ada Reformasi Organisasi Ataukah Kembali Pragmatis...

/
0 Comments
Malam ini Jusuf Kalla (JK) akan mengumumkan pada semua DPD I Partai GOLKAR seluruh Indonesia tentang sikap JK dalam menghadapi dan menindaklanjuti hasil pemilihan umum legislatif tanggal 9 april lalu. Dari beberapa sumber didapati bahwa JK akan mengumumkan bahwa JK akan menolak mandat yang sebelumnya diberikan DPD I Partai GOLKAR sebagai calon presiden dari partai beringin tersebut. Namun kata salah seorang ketua DPP partai beringin tersebut bahwa semuanya akan diserahkan lagi pada masing-masing DPD I. Malam ini JK hanya akan mensosialisasikan sikap JK, dan keputusan akhir akan diputuskan dalam rapat pimpinan nasional pada 23 April mendatang.

Sinyalemen itu secara terang-terangan akan menjawab apa yang selama ini menjadi pertanyaan yang ditujukan pada partai Golkar. Sinyalemen tersebut menunjukkan bahwa JK akan kembali merapat kebarisan SBY dengan jembatan emasnya dan meninggalkan mimpi segitiga emas yang hari ini bermetamorfosis sebagai Blok M.

Jika JK dan Golkar pada akhirnya kembali ke kubu SBY, semua orang akan sepakat bahwa SBY akan kembali menjadi presiden RI. Dan Indonesia ke depan akan tetap berjalan seperti saat ini, karena toh SBY dengan slogannya lanjutkan, mensinyalir hal tersebut.

Apa yang terjadi pada Golkar selanjutnya juga tidak akan berubah. Golkar memang berada dalam blog kekuasaan yang memungkinkan kader-kader golkar untuk mendapatkan posisi-posisi penting di pemerintahan. Apalagi Golkar merupakan partai yang memiliki suara terbanyak kedua setelah demokrat.
Namun ke depannya, Golkar akan berada dalam bayang-bayang SBY dan demokrat. Pasca bergabung dengan SBY, Golkar mengalami kohesifitas eksistensi baik dalam pemerintahan maupun dalam pengaruhnya di masyarakat. Hal tersebut dibuktikan dengan menurunnya tingkat elektabilitas partai golkar pada pemilu 2009 yang baru saja dilaksanakan. Kohesifitas tersebut akan berakibat buruk terhadap partai golkar ke depannya. Hari ini golkar telah kehilangan 2 dari 3 komponen kekuasaan yang selama ini menjadi kekuatan golkar, yaitu finansial, militer dan birokrasi. Oleh karena itu, membangun kembali koalisi dengan SBY hanya akan memperbesar kohesifitas tersebut. Namun dari sisi pragmatis, golkar kembali menunjukkan pragmatismenya sebagai partai penguasa. Meskipun tanpa kekuasaan. Hal tersebut sekali lagi membuktikan bahwa golkar benar-benar tidak siap menjadi partai oposisi.

Lain halnya jika partai beringin tersebut bergabung bersama Blok M. Pertarungan dalam pilpres akan semakin menarik dan sulit diramalkan. Namun jikalaupun kalah. Golkar masih memiliki bargaining posision yang setara dengan PDI-P dalam pertarungan politik nasional. Golkar dan PDI-P sebagai partai yang memiliki basis kultural di daerah akan mampu meraih kekuaasan di daerah untuk kembali menguatkan basis-basis kultural tersebut dalam orientasi politik masa depan kedua partai tersebut. JIka hari ini kita bicara tentang politik di daerah, tidak ada satupun partai politik yang memiliki cakar setajam kedua partai tersebut. Koalisi permanen selama 5 tahun atau lebih diantara kedua partai akan menjadi kekuatan yang luar biasa di konstituen daerah. Selanjutnya koalisi permanen di DPR akan memberikan keseimbangan kekuasaan di daerah dan di pusat. Golkar dan PDI-P yang hari ini kekurangan tokoh untuk dijual, akan mampu kembali mendaptkan simpati publik.

Namun semua itu kembali ke dua partai besar tersebut. Partai besar yang hari ini telah menjadi ayam kalahan dalam pemilu legislatif. KIta hanya bisa berharap, partai politik besar seperti kedua partai tersebut tidak hanya meributi persoalan kekuasaan dan menuntut ketika pada akhirnya mereka tidak mendapatkan kekuasaan. Sebagai partai politik yang telah melakukan banyak hal bagi masyarakat, kita tidak ingin melihat kedua partai ini nantinya akan tenggelam dalam sejarah seperti halnya partai-partai besar dulu.


You may also like

Tidak ada komentar:

Pages

Popular Posts