Orientasi Kehidupan Politik

/
0 Comments
Perjalanan Kehidupan Politik setidaknya dijalankan dalam 3 tahapan, yang mana jika ketiga tahap itu dijalankan, maka kehidupan politik sebagai manusia dapat dinyatakan sempurna. Namun ketiga tahap kehidupan itu harus dijalani secara bertahap dan berurutan. Dari tahap yang pertama, kedua dan ketiga. Jika tidak secara bertahap maka sulit dan sedikit tidak masuk akal impian untuk memiliki kehidupan politik yang sempurna itu dapat diraih.

Pertama, Bicara kehidupan manusia, maka kita tidak akan terlepas dari tahap KEMANUSIAAN. Manusia dilahirkan dengan dilengkapi dengan naluri kemanusiaan. Meski dibelakang hari naluri kemanusiaan ini kembali dipertanyakan. Pada tahap ini lah manusia akan berusaha membuat jati dirinya. Membuat dan bukan menemukan. Oleh karena jika manusia menemukan jati dirinya, maka sebenarnya jati diri itu merupakan jiplakan dari jati diri yang telah dibuat orang lain. Ada satu masa dimana nantinya proses penemuan jati diri tersebut merupakan langkah awal kritis dari pembuatan identitas diri dari manusia itu sendiri. Dalam proses ini juga berarti terjadi pengembangan dan aktualisasi diri manusia ke dalam lingkungan yang lebih besar dari sekedar individu manusia itu sendiri. Hal-hal yang mencakup penjelasan diatas tadi adalah, pendidikan non-formal, pendidikan formal, agama, kesehatan, keahlian, pekerjaan, serta kehidupan status sosial dan sebagainya.

Kedua, setelah mengalami masa humanistik tersebut, maka akan muncul sebuah konsepsi dasar untuk membenarkan segala proses yang telah dijalani dalam proses selanjutnya. Konsepsi tersebut yang dinamakan dengan kemapanan. Interprestasi dari kemapanan itulah yang menjadi tahap kedua dalam perkembangan manusia untuk menjadi manusia yang sempurna. Kemapanan di interpresasikan kedalam sebuah bentuk KEKUASAAN. Sudah menjadi ketetapan mungkin, dimana yang lemah akan dikuasai yang kuat. Meski terdengar seperti philosophi orang bar-bar. Tapi itu lah yang terjadi pada manusia, sadar atau tidak sadar. Proses kompetisi pada tahapan selanjutnya akan membuktikan hal tersebut. Kemapanan yang telah dibicarakan tadi melegitimasi bahwa orang-orang mapan lah yang akan pantas berkuasa. Disamping untuk menambah tingkat kemapanan di sektor kehidupan manusia yang lain, kekuasaan dijadikan pemenuh hasrat manusia untuk menjadi penting dimata orang lain dan dimata lingkungan sosial.
Hal tersebut kiranya menjawab fenomena yang selama ini terjadi di masyarakat, dimana berbondong-bondong orang kaya ikut ambil andil dalam dunia kekuasaan (politik). Bahkan persaingan untuk mendapatkan kekuasaan seolah-olah diciptakan untuk orang yang mapan saja. Orang-orang yang berada pada lapisan terbawah kelas sosial masyarakat dianggap sebagai "cheerleaders" dalam orientasi kekuasaan.

Setelah masuk pada tahap kedua, dimana kekuasaan telah didapatkan. Maka tahapan selanjutnya adalah KEABADIAN. Masih banyak diingkari mungkin. Namun kita bisa melihat seperti apa kebanggan yang diciptakan oleh sebagian rezim dan atau seluruh pemimpin. Dari hal terkecil misalnya. Seorang pemimpin partai menamakan pendukungnya dengan embel-embel pemimpin tadi. Bahkan seperti dalam sebuah film yang menginspirasi tulisan ini. Dalam film itu dikatakan bahwa biarlah aku hanya seorang tukang batu atau penunggang kuda. Tapi biarkan lah mereka mengenalku dan mereka akan mengatakan bahwa mereka pernah hidup di jamanku. Kalimat itu cukup bisa mendeskripsikan apa yang aku maksudnya dengan keabadian.


Manusia tanpa Kekuasaan akan tertindas, Kekuasaan tanpa Keabadian akan menjadi sia-sia.


HUMANITY, POWER AND IMMORTALITY


You may also like

Tidak ada komentar:

Pages

Popular Posts